([link])
Punch line itu menggelitik saya siang tadi. Dari Catatan Pinggirannya Goenawan Mohamad. Tulisan yang pahit, dengan tokoh sentral Herman. Siapa Herman? Ia adalah aktivis Partai Rakyat Demokratik (PRD), bernama lengkap Herman Hendarwan, lahir pada 29 Mei 1971 di Pangkal Pinang, Bangka. Pada 1998, di hari-hari ketika tentara Soeharto menangkap dan memburu para anggota PRD, setelah rezim itu memenjarakan anggota-anggota AJI (Aliansi Jurnalis Independen), setelah orang-orangnya menduduki dengan kekerasan Kantor PDI-P, Herman menjadi salah satu buron, seperti halnya Andi Arif, Nezar Patria, Bimo Petrus, dan lain-lain.
Dan ya, saya sepakat dengan GM kalau "Soeharto memang berhasil menundukkan Indonesia dengan cara yang efisien: menyebarkan ketakutan. Rezim itu punya modal teror yang amat cukup, setelah pada 1965-66 puluhan ribu orang dibunuh, dibui, dan dibuang. Dalam keadaan itu, membentuk kerja sama dengan kalangan lain dalam pergerakan pro-demokrasi perlu didahului dengan mematahkan teror itu. Dengan menjajal keberanian."
Singkat cerita, pada Maret 1998 Herman tertangkap. Atau lebih tepat, diculik. Dengan mobil yang tertutup rapat, dengan mata yang diikat dan kepala yang diselubungi seibo, dan dimasukkan ke dalam - yang oleh Nezar Patria disebut dalam testimoninya kemudian, sebagai kuil penyiksaan Orde Baru.
Tak ada alasan untuk tak menduga Herman dibunuh. Setidaknya mati dalam penyiksaan. Nezar pernah menggambarkan bagaimana tentara Soeharto menganiaya: pada satu bagian dari interogasi, kepalanya dijungkirkan. Listrik pun menyengat dari paha sampai dada. Darah mengucur. Satu setruman di dada membuat napas putus. Tersengal-sengal.
Mungkin Herman lelap selamanya setelah tersengal-sengal. Mungkin ia langsung dibunuh. Yang pasti, ia tak pernah pulang. Para pejuang dalam sajak Hr. Bandaharo berkata "tak berniat pulang, walau mati menanti". Dan Herman pernah menulis surat ke orang tuanya: "Herman sudah memilih untuk hidup di gerakan", sebab Indonesia, tanah airnya, membutuhkan itu.
Dan di akhir tulisan, punch line tersebut terpahat. Mengingatkan saya akan poster, pamphlet, dan serangkaian atribut caleg-caleg di jalan. Bedanya, tidak seperti GM, potret-potret itu tidak saya kenal. Caleg-caleg yang saya tidak tahu visi dan misinya. Atau kalaupun pernah saya dengar/baca visi dan misinya, ya gitu-gitu aja: repetisi, umum (or should I say, cliché
KONYOL. Sungguh konyol. Sama konyolnya dengan yang berkata golput itu haram. Bukankah golput itu sebuah pilihan? Pilihan untuk tidak memilih. Seberapa sulit untuk mengerti hak asasi semacam itu? Sampai menakut-nakuti orang-orang dengan berkata bahwa pilihan semacam itu haram? Atau jangan-jangan mereka yang datang dari pihak yang berkoar-koar seperti itu mengekor Soeharto: berusaha menundukkan Indonesia dengan menyebarkan ketakutan? Supaya kesempatan mereka terpilih semakin besar? Well, sorry dude.. I dont buy that..
Ya, saya golput. Dan seperti kata Efek Rumah Kaca di Mosi Tidak Percaya, "kalau kami tak percaya, lantas kau mau apa? Ini mosi tidak percaya, kami tak mau lagi diperdaya"










--
Music Dedication | TWLOHA Dedication
--
"hayat ölümün biyolojik olarak aktif safhasıdır. hiçbirimiz yaşamıyoruz, hepimiz ölüyoruz."
Chuck Palahniuk
cool artwork..
--
googly googly googly gone
--
everything is colourfull - :: - [link]
--
googly googly googly gone
--
"hayat ölümün biyolojik olarak aktif safhasıdır. hiçbirimiz yaşamıyoruz, hepimiz ölüyoruz."
Chuck Palahniuk
--
Anyone who says Sunshine brings happiness has never danced in the Rain...
--
googly googly googly gone
Previous Page12345...Next Page